Coldplay Music of The Spheres World Tour di Jakarta (sumber: PK-Entertainment)
Fan Konser Yang Terikat Percaloan
Hari-hari ini negara kita sedang dihebohkan oleh maraknya artis papan atas yang ingin menyelenggarakan konser. Fenomena ini tak lepas dari ambisi para entertainers’ yang ingin mengadakan tur ke segala penjuru dunia untuk mempromosikan album mereka. Dilansir dari Lifestyleasia.com, terdapat sepuluh musisi dunia yang hendak menyelenggarakan tur konser di Asia Tenggara tahun ini. Beberapa di antaranya ada Member BTS Agust D, Twice, Post-Malone, Kodaline, Niki, Jacky Cheung serta yang paling viral, yaitu BlackPink, Coldplay, dan Taylor Swift.
Alasan mengapa banyak konser yang mulai diselenggarakan di Indonesia sendiri ternyata tak lepas dari efek pandemi dan dampak platform musik digital. Dilansir dari Ayoyogya.com, masyarakat yang menanti untuk hadir dalam konser rakyat sudah membludak. Dari sisi penyelenggara acara jadwal konser yang sempat tertunda pada tahun 2022, harus mereka jadwalkan di tahun berikutnya. Dari segi platform sosial media, para musisi bisa dengan mudah menganalisis dari mana dominasi pendengar mereka berasal. Seperti Coldplay yang menyadari bahwa banyak penikmat karyanya berasal dari Indonesia.
Demand banyak inilah yang menghasilkan opportunity emas bagi beberapa calo untuk meraup keuntungan berlipat. Adanya ungkapan “Belum tentu konser akan terulang lagi” sontak menyebabkan mereka jadi sasaran empuk kecemasan netizen . Tak tanggung-tanggung, harga yang dilambungkan bisa sampai enam kali lipat dari harga loket. Dilansir dari CNBC, tiket paling mahal dari Coldplay dijual dari Rp11.000.000,00 hingga Rp60.000.000,00 per satuan dari. Siapakah sebenarnya para calo ini dan bagaimana peluang mereka di masa mendatang?
Sekilas Permusikan Dalam Negeri
Perkembangan musik modern Indonesia hingga saat ini sangat dipengaruhi oleh aliran dunia barat. Dimulai sekitar tahun 1960, genre musik yang menjadi selera masyarakat antara lain Pop, Rock dan Jazz. Musik pop terus berkembang dan mencapai puncaknya sampai pada tahun 90-an. Pada tahun ini juga muncul aliran bernama dangdut dengan tokohnya Roma Irama dan keroncong modern yang dipopulerkan oleh Didi Kempot. Menurut Jeremy Wallach, James Danandjaja, dan Andrew Weintraub dalam bukunya ‘Indonesia Populer’ mengatakan bahwa dangdut merupakan musik Indonesia yang paling fenomenal sepanjang masa.
Menginjak tahun millenium, musik saat itu banyak didominasi oleh band-band aliran pop melayu dikutip dari CNN Indonesia. Beberapa pentolannya antara lain ada Kangen Band, Radja, ST-12, dan Peterpan yang berganti nama menjadi Noah. Media penyebaran musik aliran ini lebih mudah karena kualitas rekaman yang sudah lebih jernih serta dibantu adanya siaran televisi, radio serta kaset CD yang bisa diputar. Tak puas dengan rekaman saja, masyarakat mulai ingin menikmati karya para pemusik secara langsung melalui konser.
Konser di Indonesia
Dilansir dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, konser merupakan pertunjukan musik di depan umum. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Indonesia dalam website-nya menekankan bahwa konser memiliki peranan besar untuk mempromosikan bangsa ke khalayak masyarakat luas untuk domestik maupun wisatawan. Berbagai festival musik kelas dunia yang pernah dilanggengkan antara lain Java Jazz Festival, Jazz Gunung, Sychronize Fest, Soundrenaline, We The Fest, dan Djakarta Warehouse Project (DWP). Tak hanya mempromosikan musisi terkait, namun konser bisa menjadi lahan menyampaikan pesan seperti Coldplay yang selalu menekankan go-green di setiap konsernya atau konser amal dengan tujuan menggalang dana bagi pihak bencana dan kelaparan misalnya.
Ada banyak manfaat yang bisa didapat dari menonton konser. Dilansir dari Halodoc.com, Dr. Rizal Fadli menekankan bahwa, mengunjungi konser berguna untuk menurunkan stres, meningkatkan hubungan sosial, hingga mencegah alzheimer. Selain kesehatan mental, alasan untuk berkonser secara langsung adalah pengalaman untuk melihat artis atau pemusik secara langsung. Prof. Rhenald Kasali dalam kanal YouTube-nya menyatakan bahwa, “Menjadi bagian dari perjalanan karir sang artis idola, menjadi landasan utama seseorang menghadiri konser.” Tak semua orang bisa menghadiri konser, dikarenakan keterbatasan tempat dari stadion. Inilah nanti yang memicu adanya ticket war yang dimanfaatkan oleh para calo.
Sepak Terjang Calo
Antrian orang di sebuah loket (sumber: Loket.com)
Calo dapat diartikan sebagai perantara untuk menguruskan sesuatu berdasarkan upah atau menjadi perantara menurut KBBI. Calo sendiri ada yang bersifat resmi, meski pada praktiknya didominasi oleh pihak yang tidak sah. Praktik percaloan tiket illegal ternyata sudah ada sejak 1950, di mana dilansir dari Parameswari, saat itu calo menjualkan tiket-tiket teater atau bioskop di Surabaya. Langkah antisipasi yang diambil saat itu adalah pengenaan pajak beserta pemberian cap saat membeli tiket. Pada era itu, pemerintah dan beberapa ormas bisa saling berkoordinasi untuk mengawasi praktik percaloan.
Calo tiket konser musik beraksi dengan cara yang berbeda. Mereka membeli tiket dalam jumlah yang banyak lalu menjualkan kembali dengan harga yang lebih tinggi dilansir dari Urbangarut.com. Untuk mendapatkan tiket, mereka harus datang ke loket yang ditentukan. Seperti pada tahun 90-an, masyarakat tak asing dengan perusahaan jasa penjual tiket “Ibu Dibyo” yang berlokasi di Jakarta Selatan dilansir dari Tagar.id. Apabila para peminat yang rela mengantri telah kehabisan tiket mereka di loket, maka mereka akan mencari calo yang biasa muncul di sekitar loket atau saat konser itu dimulai. Para calo zaman sekarang bekerja dengan cara yang berbeda, memanfaatkan teknologi dan akses yang tak terbatas.
Dampak Revolusi Teknologi bagi Industri Musik dan Calo
Menunggu Antrian Tiket Secara Online (sumber: Ticketmaster.sg)
Seiring perkembangan zaman, teknologi pun ikut berkembang dan mengubah pola masyarakat dalam menikmati musik dan konser. Dilansir dari jurnal ilmiah Dewantara dan Agustin, era digital musik tidak lagi bergantung pada produk fisik namun bergantung kepada CD, download dan akses online. Era digital juga ikut mengintervensi cara publik menikmati musik melalui media perantara seperti media sosial dan aplikasi streaming. Beberapa aplikasi streaming musik yang bisa dinikmati antara lain JOOX, SoundCloud, dan Spotify. Sedangkan sosial media yang dipakai untuk penyebaran musik antara lain Instagram, TikTok dan YouTube.
Tidak hanya dalam menikmati musik, perilaku masyarakat dalam berkonser juga mengalami perubahan signifikan. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengatakan bahwa selama era pandemi, masyarakat diperkenalkan dengan live streaming concert. Disebutkan bahwa penonton tidak perlu berangkat ke lokasi, namun hanya menyiapkan keperluan digital seperti Wi-Fi dan gawai sebagai penghubung. Cara berkonser inilah yang menjadi awal mula munculnya online ticket dan cara mendapatkannya secara online pula.
Istilah ticket war yang baru-baru ini viral juga hadir di tengah perebutan tiket online. Penggemar akan saling berebut untuk mengakses platform loket berupa situs web atau agen penjual tiket dilansir dari Kompasiana. Pembelian tiket secara online memang menghasilkan berbagai kemudahan akses sehingga orang tidak perlu datang ke loket asli. Sisi negatifnya adalah persaingan untuk mendapatkan tiket menjadi sangat luas. Tiket yang terjual bisa habis dalam satu atau dua menit sejak akses dibuka. Biasa para peminat akan disuruh melakukan online queue dengan nomor antrian tertentu.
Kekecewaan datang. Ketika sudah mengantre cukup lama dan tidak mendapat kesempatan membeli tiket dikarenakan sold out. Dilansir dari tulisan Wibhyanto, momen inilah yang dimanfaatkan untuk scalping para calo. Scalping bisa diartikan sebagai upaya untuk menjualkan tiket sekunder dengan harga yang tinggi. Melalui sosial media serta jaringan internet, scalping menjadi lebih tak terkontrol karena setiap orang bisa menjadi calo dan menjual tiket kapan saja.
Percaloan Pada Konser Coldplay
Cara calo memainkan peran yang paling baik bisa dilihat melalui fenomena Ticket War pada konser Coldplay di Jakarta dengan tajuk World Tour: Music of The Spheres. Para fans mulai sangat bergairah menanti kehadiran band kebangsaan Inggris yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup. Kemeriahaan ini juga didukung oleh pernyataan dari sang vokalis, yaitu Chris Martin yaitu akan berhenti bermain musik sebagai band pada 2025 menurut USS feed. Bercampurnya semua faktor tadi bersama dengan terbatasnya ketersediaan tiket menjadi “ladang cuan” bagi para calo.
Meskipun baru akan berkonser di GBK (Gelora Bung Karno) pada 15 November nanti, presale tiket maupun penjualan resminya sudah dibuka sejak Bulan Juni. Setiap orang akun yang diberi kesempatan masuk hanya dibatasi untuk membeli 4 tiket. Tiket pun dibagi menjadi beberapa kategori yang disesuaikan dengan harganya. Banyak hal tak terduga yang terjadi selama ticket war, penjualan pre-sale yang rencana dibuka selama dua hari harus berakhir dalam 2 menit pertama. Dilansir dari Tempo.co, tiket kategori ultimate experience habis dalam kisaran enam menit pertama, sementara seluruh tiket habis dalam empat puluh menit.
Ada sekitar 500.000 akun yang belum beruntung karena sudah mengantre, namun harus terhenti dan memupuskan harapannya. Satu-satunya cara mereka mendapatkan kesempatan adalah dengan menunggu re-sale. Sementara, tidak semua orang yang sudah membeli tiket membutuhkan tiket tersebut untuk keperluan mereka sendiri. Banyak yang mengatakan bahwa factor luck adalah syarat utama untuk mendapatkan tiket. Faktanya, ada satu dua pihak yang bisa mendapatkan tiket lebih meski sudah ada regulasi yang ditetapkan.
Ada berbagai cara untuk meningkatkan kesempatan seseorang untuk lolos dalam online queue. Pertama adalah kualitas internet dan sinyal itu sendiri. Banyak orang yang rela menggunakan server dari kantor atau datang ke warnet (warung internet) dengan kecepatan internet hingga 500MBPS. Kedua adalah memanfaatkan “jasa titip” tiket oleh orang yang memiliki kualitas internet tinggi. Naasnya, jasa titip ini tidak menjamin kalau tiket akan terbeli oleh si pembuka jasa.
Ferry Irwandi, seorang ekonom dan YouTuber dalam kanalnya, menyebutkan salah satu kecurangan memperoleh tiket yang paling fatal dengan menggunakan bot otomatis atau disebut “scalping-bot”. Dilansir dari tekno.sindonews.com, fungsi bot ini bisa sangat beragam seperti pemantauan situs penjualan dan membeli tiket secara otomatis. Tak hanya satu tiket, bot ini juga memanfaatkan beberapa alamat email palsu secara bersamaan untuk memasuki area penjualan. Selain manipulasi website penjualan, tak bisa dipungkiri bahwa pihak yang memiliki akses khusus atau privilege juga punya cara tersendiri untuk mendapatkan tiket.
Lycie Joanna Putri, mantan Puteri Indonesia tahun 2019, diduga pernah melakukan praktik percaloan memanfaatkan akses khusus. Dilansir dari CNN Indonesia, Joanna diklaim telah memonopoli 100 tiket dari pihak promotor dan melambungkan harganya dua kali lipat. Pengakuan yang dibuat mantan puteri Indonesia tersebut adalah menjualkan kembali tiket tak terpakai yang diperoleh kerabat maupun keluarganya. Pernyataan tersebut dinilai kurang valid sebab melalui akun Instagramnya, Joanna menyatakan bahwa “Orang harus punya relasi dan membutuhkan calo.”
Puteri Indonesia 2019 Menjadi Calo Tiket (sumber: Asumsi.com)
Dampak Dari Percaloan
Dari beberapa fakta tersebut, kita belajar bahwa bersaing dengan calo sangatlah sulit, namun menjadi bagian darinya menjadi sangat mudah. Praktik percaloan mencapai puncak viralnya saat tiket konser Coldplay dibuka. Tak bisa dipungkiri banyak pihak yang akan dirugikan karena praktik percaloan ini. Selain masyarakat yang dirugikan karena harus membeli dengan harga lebih daripada harga sebenarnya, nama baik negara pun juga dapat terkena dampaknya.
Banyak faktor yang dirugikan dari masyarakat, pertama adalah usaha dan waktu yang dikeluarkan untuk membeli tiket di official website. Rata-rata setiap akun membutuhkan waktu sekian jam untuk mengantre dan mendapatkan giliran masuk ke dalam website. Antrean berjam- jam di website menjadi tak berguna apabila tiket sudah sold-out terdahulu.
Kedua adalah ketika tiket itu sendiri dinaikkan harganya, secara tidak langsung konsumen yang masih bergairah rela membeli tiket hingga rela meminjam uang. Hal ini didukung oleh pernyataan dari Firlie H. Ganinduto selaku Wakil Sekretaris Jenderal II Asosiasi Fintech Indonesia yang dilansir melalui siaran CNBC, menyatakan bahwa peningkatan permintaan pinjol melonjak drastis dikarenakan pembelian tiket konser.
Ketiga adalah nama baik negara tempat konser itu dipilih. Kondisi percaloan yang merajalela di suatu negara membuat masyarakat berpikir ulang untuk membeli tiket konser dalam negeri. Akibatnya mereka lebih memilih untuk menonton di luar negeri. Keputusan Coldplay untuk menggelar konser enam hari di Singapura tanpa menambah sehari pun di Indonesia, menjadi salah satu dampaknya. Dampak berikutnya disusul Taylor Swift yang resah untuk menggelar salah satu perjalanan turnya di Indonesia dikarenakan efek praktik percaloan dilansir dari baperanews.com.
Solusi Mencegah Praktik Percaloan
Mengatasi calo masa kini memang berbeda dengan zaman dahulu. Pemerintah, masyarakat, maupun pihak promotor tiket harus melek teknologi. Untuk mengatasi kecurangan akibat ulah bot misalnya, PK Entertainment yang dilansir dari detik.com mencoba untuk mengaplikasikan sistem gacha untuk menyaring akun asli dan yang tidak. Harry Sudarma sebagai Co-Founder dan chief operating PK Entertainment juga mengusulkan masyarakat untuk tidak mengikuti jastip dan langsung membeli di website terpercaya.
Nasihat paling ampuh untuk bisa menghadapi calo disampaikan melalui kanal YouTube Ferry Irwandi. Dalam videonya yang bertajuk cara efektif untuk menghancurkan calo tiket, pesan beliau simpel, “Jangan dibeli.” Pada akhirnya, praktik percaloan hanyalah menjadi permainan mentalitas antara penjual dan pembeli. Bila masyarakat bisa menunda untuk membeli tiket sampai mendekati hari konser, maka para calo yang akan “ketar-ketir” dengan sendirinya. Segala kemungkinan bisa terjadi apabila waktu konser masih lama, seperti penambahan hari kedua dalam konser misalnya.
Pemerintah dan pihak hukum juga bisa bertindak tegas dengan meniru pemerintah Taiwan, contohnya, yang melarang keras praktik calo dengan hukum pidana dan denda yang besar. Pihak promotor juga memiliki taktik untuk “menghajar” para calo tiket. Seperti waktu Coldplay memutuskan untuk menambah 4 hari konser di Singapura menjadi 6 hari konser, para pembeli Indonesia mulai memutuskan untuk berangkat ke sana. Hal ini membuat calo makin khawatir dan memutuskan untuk menurunkan harga tiket mereka dilansir dari celebrities.id.
Kesimpulan
Meski keputusan Coldplay untuk menambah konser di Singapura belum tentu memenangkan ticket war yang sempat gagal. Khalayak umum mulai bisa menilai bahwa negara kita masih dipandang sebelah mata sebagai lokasi yang layak untuk menyelenggarakan konser. Hal ini juga dilanjutkan dari keputusan Taylor Swift yang menjadikan Singapura sebagai satu- satunya tanpa hadir di negara sekitar. Meskipun berdasarkan fakta yang diungkap Renal Khasali dalam kanal YouTube-nya, sebanyak 2,1 juta pendengar Taylor Swift berasal dari Jakarta.
Dinamika industri permusikan di Indonesia selalu diiringi dengan hadirnya acara konser untuk melepas rasa rindu penonton. Budaya ini berlangsung sejak puluhan tahun semenjak permusikan modern hadir di tanah air. Permintaan tiket yang melonjak menjadi sasaran empuk dari para pemilik tiket untuk menjualkan kembali dengan margin harga yang lebih tinggi. Percaloan selalu lahir dan menyesuaikan diri seiring perkembangan zaman, terlebih dengan perkembangan teknologi membuat para pembeli tiket menjadi calo dengan lebih mudah.
Percaloan telah merugikan banyak pihak mulai dari pemerintah, promotor tiket, penyelenggara acara, pihak artis dan yang paling berdampak adalah para fans. Menjadi calo adalah tindakan yang salah, namun akan terus menjamur apabila tak bisa dihentikan. Pihak pemerintah bisa membantu dengan regulasi, pihak promotor bisa menghindari suatu negara. Cara paling ampuh datang dari Masyarakat sendiri Ketika kesadaran diri mereka untuk bisa menghindari calo sudah tinggi maka calo diharapkan bisa berkurang dan menyerah dengan sendirinya. Jadilah pembeli tiket yang jujur dan menonton konser dengan baik.
Ditulis pada 10 September 2023
oleh: Albertus Sandhy (KEKL 2015)
Referensi:
-
https://www.lifestyleasia.com/kl/whats-on/events-whats-on/concerts-southeast-asia-2023/
-
https://www.ayoyogya.com/umum/399282116/fakta-tahun-2023-banyak-konser-di- indonesia-mengapa-ternyata-ini-alasannya?page=2
-
CNBC Indonesia. (Mei 2023) Tiket Konser Coldplay Tembus Rp 60 Juta, Penjual Buka Suara.https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20230518133341-33-438452/tiket-konser- coldplay-tembus-rp-60-juta-penjual-buka-suara.
-
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/02/27/karya-seni-musik-indonesia
-
https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20200520182427-227-505444/playlist-pop-melayu- indonesia-2000-an
-
https://www.kemenparekraf.go.id/ragam-ekonomi-kreatif/Konser-Musik-Indonesia-Kelas- Dunia-yang-Selalu-Dinantikan.
-
Pintarnya Singapura Menguasai Taylor Swift dan Coldplay. https://www.youtube.com/watch?v=JwgC1Uy2mTM
-
https://garut.urbanjabar.com/gaya-hidup/8968851999/calo-tiket-konser-praktik-tidak-etis- dalam-industri-musik
-
https://journal.moestopo.ac.id/index.php/wacana/article/view/729/454
-
https://kemenparekraf.go.id/rumah-difabel/Cara-Baru-Menonton-Konser-Musik-di-Tengah- Pandemi
-
https://bisnis.tempo.co/read/1726737/tiket-konser-coldplay-di-jakarta-seharga-rp-11-juta- habis-dipesan-dalam-waktu-6- menit#:~:text=Tiket%20Konser%20Coldplay%20di%20Jakarta,6%20Menit%20%2D%20Bi snis%20Tempo.co
-
https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20230524142340-227-953475/promotor-bantah- klaim-lycie-joanna-jual-tiket-coldplay-dari-ordal
-
https://www.cnbcindonesia.com/tech/20230519114207-39-438687/viral-permintaan-pinjol- meledak-demi-beli-tiket-coldplay
-
https://www.baperanews.com/ini-alasan-taylor-swift-ogah-konser-di-indonesia
-
https://www.celebrities.id/read/harga-tiket-calo-coldplay-turun-gegara-konser-4-hari-di-singapura- hesti-purwadinata-jangan-dibeli-guys-89yqW0