Uncategorized

GATHERING 60-AN : (MASIH) BERJALAN BERSAMA LOYOLA

JAKARTA-Suasana function room Tower II Apartemen Senayan Residence, Jakarta Pusat, cukup ramai pada Minggu (12/02) lalu. Banyak wanita dan pria mengenakan pakaian dengan nuansa merah saling bercengkrama akrab. Beberapa bahkan saling melempar candaan dan menggunakan istilah dalam bahasa Jawa dengan aksen medhok yang khas.
Ya, alumni SMA Kolese Loyola Semarang yang tergabung dalam Keluarga Eks Kolese Loyola (KEKL) angkatan 1960-1970 saat itu sedang berkumpul bersama dalam rangka Cap Go Meh dan reuni. Acara ini dihadiri oleh sekitar 80 anggota KEKL yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya.
Acara dimulai pada pukul 11.30 WIB dengan dipandu oleh Ibu Liliyanti (KEKL 1968). Selanjutnya, Bapak Sedyana Pradjasantoso (KEKL 1961) memberikan sambutan selaku tuan rumah acara. Dalam sambutan, beliau membawa kembali kenangan masa SMA dengan menunjukkan beberapa foto zaman dulu. Para anggota KEKL mengikuti dengan antusias.

Setelah mengenang masa SMA, anggota KEKL diajak untuk kembali mengingat awal mula terbentuknya ikatan KEKL. KEKL sendiri dibentuk dengan tujuan utama yaitu tujuan sosial. Para alumni Loyola ingin sekali membantu adik-adik Loyola yang baru saja lulus dari SMA dan harus merantau. Bantuan itu bisa dengan bentuk mencari kos, memberikan fasilitas untuk pulang ke Semarang, lalu membantu bila ada yang sakit, dan lain-lain.
Menurut Bapak Hadi Wirawan (KEKL 1958), berangkat dari ide tersebut, akhirnya tercetus gagasan untuk membentuk KEKL. Pada sekitar Agustus-September 1962, didirikanlah KEKL di Bandung. KEKL dianggap sebagai ide yang bagus dan akhirnya KEKL diperkenalkan di Loyola. Pada tanggal 22 Desember 1962, akhirnya dikumandangkan Proklamasi KEKL di SMA Kolese Loyola. Ada 8 KEKL yang hadir sebagai pendiri.

Acara dilanjutkan dengan sesi foto, makan bersama, karaoke, dan juga polonaise.

***

SMA Kolese Loyola telah melahirkan angkatan demi angkatan manusia yang dididik dengan semangat Ignatian. Setelah meninggalkan rumah, para alumni mulai melangkah untuk meniti masa depan.
Salah satunya adalah Sedyana Pradjasantoso (KEKL 1961). Setelah lulus dari SMA Kolese Loyola, beliau melanjutkan ke pendidikan farmasi. Namun, Alumni Loyola yang tengah menduduki jabatan Adviser di PT. Ancol terang Metal Printing Industry ini akhirnya tidak bekerja di bidang tersebut. Meski begitu, Sedyana merasa beruntung karena beliau memiliki kesempatan untuk mengenal pengetahuan baru.
Semangat Ignatian yang paling berpengaruh dalam dirinya adalah semangat Men and Women for and with others. Menurut beliau, semangat itu yang membuat beliau senang untuk berbagi dengan orang lain. Ia senang berbagi pengalaman dengan anak-anak muda dan bahkan tidak segan untuk membantu orang-orang baru dalam perusahaannya agar bisa mengikuti pola yang ada.

Bukan hanya itu, semangat kekeluargaan Loyola juga sangat berkesan baginya. Hal yang bisa dilihat adalah dari minat para KEKL bila diadakan reuni. Walau sudah selama apapun tidak bertemu, tetapi masih sering bertukar kabar lewat messenger dan bahkan lewat grup dalam sebuah messenger. Walau sudah alumni, tetap ada alasan untuk berkomunikasi.
Berbeda dengan Sedyana, Ben Wirawan (KEKL 1960), justru merindukan dinamika selama berada di SMA. Kejahilan bersama teman-teman selama berdinamika di Loyola menjadi warna tersendiri dibalik pengalamannya selama mengenyam pendidikan. “Suasana boys-only (saat itu) luar biasa, sehingga untuk melakukan kenakalan pun tidak ada rasa sungkan.”, ujarnya.
Terlepas dari itu, disiplin yang ditanamkan di Loyola sangat kental dan kebersamaan mereka di masa sulit mempererat tali persaudaraan mereka hingga sekarang.
(Deo 2014, Adhi 2013/ Avie 1994)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.